Jokowi, SBY, hingga Presiden Prancis Jadi Korban Penyadapan Global, Terungkap dari Dokumen Bocoran

Kasus penyadapan terhadap mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi sorotan setelah munculnya informasi mengenai praktik pengawasan elektronik lintas negara yang melibatkan lembaga intelijen global. Penyadapan terhadap tokoh-tokoh dunia, termasuk para pemimpin negara, terungkap melalui bocoran dokumen dari berbagai sumber, termasuk WikiLeaks dan laporan media internasional, yang menunjukkan bahwa praktik ini telah berlangsung selama puluhan tahun. Berikut adalah rangkuman lengkap tokoh-tokoh dunia yang pernah menjadi target penyadapan, termasuk tokoh-tokoh Indonesia.

Penyadapan terhadap SBY dan Keluarga pada 2009

Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi korban penyadapan oleh badan intelijen Australia pada Agustus 2009. Menurut laporan Guardian Australia dan Australian Broadcasting Corp, operasi ini melibatkan pemantauan aktivitas telepon seluler SBY selama 15 hari, termasuk percakapan dengan istri dan para menteri senior. Bahkan, gerak-gerik keluarga SBY juga diamati secara intensif. Kejadian ini memicu ketegangan diplomasi antara Indonesia dan Australia. SBY menanggapi dengan mengirim surat resmi kepada Perdana Menteri Australia saat itu, Tony Abbott, meminta penjelasan secara formal. Meski sempat memanas, hubungan bilateral kembali membaik pada Mei 2014 setelah Australia menunjukkan komitmen untuk memperbaiki kerangka etika hubungan bilateral.

Jokowi dan BJ Habibie Juga Tersentuh Spionase Global

Sebelum menjabat sebagai Presiden, Joko Widodo (Jokowi) juga menjadi korban penyadapan. Pada akhir 2013, rumah dinas Gubernur DKI Jakarta saat itu dikabarkan telah disadap. Hal ini diungkap oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Tjahjo Kumolo, yang menyebut bahwa Jokowi sendiri tidak terlalu memedulikan insiden tersebut. Ia bahkan menyampaikan dengan santai, “Yang mau disadap dari saya apa, sih?” Sementara itu, mantan Presiden ketiga RI, BJ Habibie, menjadi korban penyadapan pada 10 Desember 1998, saat melakukan percakapan telepon dengan Jaksa Agung M Andhi Ghalib sehari setelah pemeriksaan mantan Presiden Soeharto. Percakapan tersebut kemudian bocor dan disiarkan melalui majalah Panji Masyarakat edisi 24 Februari 1999, menjadi bukti awal bahwa pengawasan terhadap tokoh negara bukanlah hal baru.

Di tingkat internasional, Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) terbukti menargetkan tiga presiden Prancis secara berurutan, termasuk François Hollande. NSA memiliki akses ke saluran telepon langsung di Istana Élysée dan mencatat berbagai percakapan penting, seperti krisis utang Yunani, hubungan dengan Angela Merkel, serta upaya Prancis memengaruhi struktur PBB. NSA juga menyadap Kanselir Jerman Angela Merkel, dengan mencatat 125 nomor telepon pejabat tinggi Jerman, termasuk saluran kantor dan mesin faks. Informasi yang berhasil diakses mencakup pembahasan krisis keuangan global, isu Iran, dan krisis zona Euro. Skandal ini memicu gelombang protes di Jerman dan menimbulkan kritik tajam terhadap praktik pengawasan lintas negara.

Proyek Pegasus pada 2021 juga menjadi perhatian dunia setelah terungkap bahwa spyware buatan NSO Group asal Israel berhasil menembus basis data global, mengungkap 50 ribu nomor ponsel. Dari jumlah tersebut, 14 kepala negara dan pemerintahan teridentifikasi, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa. Pegasus mampu mengekstraksi data, melakukan pemantauan pasif, dan mengumpulkan informasi dari aplikasi pesan populer seperti WhatsApp dan Signal. Dengan kemampuan tersebut, spyware ini menjadi alat yang sangat efektif dalam operasi intelijen modern.

Artikel ini dirangkum dari sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8738088/daftar-tokoh-dunia-yang-pernah-jadi-target-penyadapan-sby-jokowi-termasuk