Tren Internmaxxing di Singapura: Mahasiswa Jalani 2 hingga 5 Magang untuk Kuatkan Portofolio Kerja

Di tengah persaingan ketat di pasar tenaga kerja, mahasiswa di Singapura kini tengah mengadopsi tren ‘internmaxxing’, yaitu menyelesaikan dua hingga lima program magang selama masa studi. Fenomena ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara generasi muda mempersiapkan diri memasuki dunia profesional, dengan fokus pada pengalaman kerja nyata sebagai nilai tambah utama. Berbagai institusi pendidikan dan perusahaan lokal hingga global turut mendukung praktik ini sebagai bagian dari strategi perekrutan dan pengembangan talenta.

Magang sebagai Jembatan Antara Akademik dan Dunia Kerja

Jasariel Chee, lulusan gelar ganda ilmu politik dan manajemen strategis dari Singapore Management University (SMU), menjadi salah satu contoh nyata dari tren ini. Ia menyelesaikan lima program magang di berbagai bidang, termasuk humas, komunikasi, dan pengembangan pembelajaran. Menurut Chee, pengalaman magang memberinya wawasan mendalam tentang dinamika industri, sekaligus memperkuat keterampilan interpersonal dan jaringan profesional yang tak bisa diperoleh hanya melalui kuliah. Ia bahkan menunda kelulusan hingga satu tahun demi memperkaya portofolio magangnya. Meski demikian, Chee mengakui bahwa jumlah magang yang banyak tidak menjamin langsung mendapat pekerjaan, karena ia harus mengirim ratusan lamaran dan menjalani tiga sesi wawancara sebelum menerima dua tawaran kerja. Kini, ia telah resmi menjadi karyawan penuh waktu di bidang komunikasi.

Perspektif Perusahaan dan Kebijakan Pendidikan yang Mendukung

Fenomena serupa juga dialami Dallen Chua, lulusan Nanyang Technology University (NTU) dengan jurusan filsafat. Ia menekankan bahwa pengalaman magang justru lebih menentukan dibanding indeks prestasi kumulatif (IPK). Menurut Chua, banyak temannya yang berprestasi akademik tinggi tetapi kesulitan mendapatkan pekerjaan karena minim pengalaman kerja. ‘Beberapa teman saya menyadari bahwa sudah terlambat untuk hanya fokus pada studi saja,’ ujarnya. Data dari Kementerian Tenaga Kerja Singapura menunjukkan bahwa faktor utama dalam rekrutmen tahun 2025 adalah pengalaman kerja sebelumnya, menggantikan dominasi IPK. Profesor Madya Walter Theseira dari Universitas Ilmu Sosial Singapura menyatakan bahwa persaingan yang meningkat mendorong mahasiswa mencari lebih banyak peluang magang. ‘Magang dan pengalaman kerja sebelumnya hanyalah salah satu cara lulusan memperoleh keterampilan kerja dan menunjukkan kualitas kepada pemberi kerja,’ katanya. Di sisi lain, universitas pun turut mendorong tren ini: magang menjadi wajib bagi mahasiswa sarjana di NTU sejak 2021, sementara SMU mewajibkan magang bernilai kredit. ‘Lulusan kami memasuki pasar yang lebih selektif, di mana para pemberi kerja lebih memperhatikan keterampilan dan pengalaman yang dapat dibuktikan daripada sekadar ijazah,’ ungkap Profesor Christian Wolfrum, Wakil Presiden dan Rektor NTU. Perusahaan seperti Millennium Management dan DBS juga mengakui bahwa magang merupakan ‘jalur utama’ untuk merekrut talenta muda. Kepala Sumber Daya Manusia Asia-Pasifik Millennium Management, Fred Dura, menyebut bahwa lebih dari 50 peserta magang di Asia-Pasifik tahun ini berasal dari Singapura, dengan sebagian besar menerima tawaran kerja tetap. Di DBS, CEO Tan Su Shan menekankan pentingnya menilai sikap dan kinerja dalam lingkungan kerja nyata, bukan hanya dalam wawancara. ‘Sikap hanya akan terlihat ketika Anda mulai bekerja bersama,’ katanya, menambahkan bahwa bank tersebut akan memperluas program magang.

Artikel ini dirangkum dari sumber: https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8738753/saat-mahasiswa-di-singapura-kena-tren-internmaxxing-magang-2-hingga-5-kali