Studi terbaru yang dilakukan Enuma bersama Telaah Institute mengungkapkan bahwa meskipun rata-rata nasional kemampuan literasi dan numerasi siswa sekolah dasar (SD) di Indonesia mengalami kenaikan pada 2025, sebagian besar daerah justru mencatat penurunan capaian dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil penelitian ini dipaparkan pada Selasa (3/11/2026) dan didanai oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA) melalui program Inclusive Business Solution (IBS).
Perkembangan Nilai Nasional dan Ketimpangan Regional
Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nasional kemampuan literasi meningkat dari 57,4 pada 2024 menjadi 60,2 pada 2025, atau naik sebesar 2,8 poin. Sementara itu, kemampuan numerasi juga mengalami kenaikan signifikan, dari 47,1 menjadi 53,3—meningkat 6,2 poin. Namun, kenaikan rata-rata nasional tersebut tidak tercermin pada sebagian besar wilayah yang diteliti. Dari sembilan daerah yang menjadi objek studi—Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bogor, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Tangerang, Kota Balikpapan, Kota Denpasar, dan DKI Jakarta—delapan di antaranya mengalami penurunan nilai literasi dan numerasi.
DKI Jakarta Jadi Satu-Satunya Daerah yang Meningkat
DKI Jakarta menjadi satu-satunya wilayah yang mencatat kenaikan pada kedua indikator. Nilai literasi di Jakarta naik dari 71,3 menjadi 71,5, sedangkan nilai numerasi melonjak dari 52,8 menjadi 59,3—meningkat 6,5 poin. Di sisi lain, Kabupaten Aceh Utara menjadi daerah dengan capaian terendah di semua indikator, baik literasi (45,8) maupun numerasi (42,0), dengan penurunan signifikan dari tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi di Kabupaten Bogor, yang mengalami penurunan 3,9 poin dalam literasi dan 4,4 poin dalam numerasi.
Peneliti Telaah Institute, Akbar Dzidan, menekankan bahwa daerah dengan capaian di bawah rata-rata nasional umumnya merupakan wilayah dengan dominasi kawasan pedesaan. Ia menyatakan, “Daerah dengan capaian di bawah rata-rata nasional adalah daerah kabupaten dengan mayoritas pedesaan.” Temuan ini menyoroti ketimpangan akses dan kualitas pembelajaran antarwilayah.
Studi ini juga memetakan persentase satuan pendidikan berdasarkan capaian kompetensi minimum. Dalam kategori baik (lebih dari 75% siswa mencapai kompetensi minimum), DKI Jakarta unggul dengan 80,6% SD berada di kategori tersebut, disusul Denpasar (79,3%) dan Balikpapan (73%). Sebaliknya, Aceh Utara mencatat proporsi SD kategori kurang (di bawah 40%) tertinggi, yaitu 46% untuk literasi dan 50,7% untuk numerasi. Di sisi lain, hanya 11,8% SD di Aceh Utara yang berada dalam kategori baik untuk numerasi.
“Setengah dari SD di Kabupaten Aceh Utara itu punya proporsi nilai yang sebenarnya masih kurang baik untuk capaian numerasi,” ujar Akbar Dzidan. Ia menekankan bahwa intervensi pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi lokal. “Intervensi dasar literasi dan numerasi masih sangat dibutuhkan di daerah dengan proporsi sekolah berkategori ‘kurang’ yang besar. Sementara itu, daerah seperti Jakarta, Denpasar, dan Balikpapan membutuhkan intervensi yang lebih kompleks daripada intervensi dasar,” tambahnya.
Artikel ini dirangkum dari sumber: https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8737352/studi-enuma-nilai-literasi-dan-numerasi-nasional-naik-tapi