Sebuah penelitian terbaru dari IPB University mengungkap adanya gen resistansi antimikrob pada bakteri Escherichia coli (E. coli) yang berasal dari ekosistem pemotongan hewan di Provinsi Banten. Temuan ini menyoroti risiko penyebaran bakteri resisten melalui rantai pangan dan menekankan pentingnya penerapan prinsip One Health dalam pengelolaan kesehatan publik. Penelitian dilakukan sejak 2023 dan melibatkan analisis genomik lintas sektor manusia, hewan, dan lingkungan.
Gen Resistansi Berpotensi Menyebar Melalui Rantai Pangan
Prof drh Hadri Latif, Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, menegaskan bahwa salah satu jalur utama penyebaran mikroorganisme resisten adalah melalui konsumsi pangan. Ia menyatakan, “Salah satu jalur mikroorganisme yang sudah resistan terhadap antimikrob untuk berpindah itu adalah melalui pangan,” sebagaimana dikutip dari laman resmi IPB University pada 4 November 2026. Menurutnya, gen resistansi dapat berpindah antarbakteri melalui mekanisme transfer gen, terutama melalui plasmid, yang memperbesar risiko terhadap efektivitas pengobatan infeksi bakteri.
Pendekatan One Health dan Teknologi Genomik
Penelitian bertajuk Membaca Jejak Resistansi Antimikrob: Pendekatan Genomik untuk Kebijakan Berbasis One Health di Indonesia menggunakan teknologi whole-genome sequencing (WGS) untuk mengidentifikasi gen resistansi antimikrob (ARG), menentukan lokasi gen pada kromosom atau plasmid, serta memprediksi potensi resistansi terhadap berbagai kelas antimikrob. Hasil menunjukkan bahwa pada isolat E. coli dari ekosistem pemotongan babi, ditemukan gen resistansi terhadap 12 kelas antimikrob. Lebih lanjut, 90 persen isolat hewan, 40 persen isolat lingkungan, dan 12,7 persen isolat manusia menunjukkan potensi resistansi multidrug (MDR), yaitu resistansi terhadap tiga kelas atau lebih antimikrob. Pada isolat hewan dan lingkungan, sekitar 85 persen gen resistansi ditemukan pada plasmid, yang memungkinkan transfer gen secara efisien melalui konjugasi. Temuan juga mencatat penurunan deteksi gen mcr-1.1—yang terkait resistensi terhadap kolistin—pada sampel 2026, sejalan dengan penghentian penggunaan kolistin pada ternak. Namun, Hadri menekankan bahwa keberadaan gen resistansi tidak selalu berarti bakteri telah resisten secara fungsional; pengujian kepekaan antimikrob tetap diperlukan untuk konfirmasi. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan antibiotik secara sembarangan, terutama saat mengalami batuk dan pilek, karena sebagian besar kasus disebabkan oleh virus yang tidak responsif terhadap antibiotik. Penggunaan obat yang tidak tepat dapat mempercepat munculnya dan penyebaran bakteri resisten, sehingga mengancam efektivitas pengobatan di masa depan. Penggunaan antibiotik harus bijak, sesuai resep, dan hanya atas anjuran tenaga medis.
Artikel ini dirangkum dari sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8738206/gawat-ilmuwan-temukan-gen-kebal-antibiotik-di-tempat-pemotongan-hewan