Teleskop Neil Gehrels Swift Observatory milik NASA resmi berakhir misinya setelah menempuh perjalanan 22 tahun di luar angkasa, dengan rencana jatuh ke Bumi pada Rabu, 4 November 2026. Dalam proses masuk atmosfer, sebagian besar struktur teleskop diperkirakan terbakar habis, sementara sisa bagian yang selamat diperkirakan jatuh di zona lintang antara 20,6 derajat selatan hingga 20,6 derajat utara. Meski demikian, risiko kecelakaan bagi manusia sangat kecil, sebagaimana ditegaskan oleh NASA dan Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat.
Misi Revolusioner yang Berlangsung Lebih Lama dari Rencana
Teleskop Swift awalnya dirancang untuk beroperasi selama dua tahun, dari 2004 hingga 2006, dengan fokus utama pada pengamatan ledakan sinar gamma (GRB), salah satu peristiwa paling energik di alam semesta. Namun, berkat keandalan dan performanya yang tinggi, misi ini diperpanjang hingga mencapai 22 tahun—lebih dari 20 tahun melebihi target awal. Selama masa operasinya, Swift berhasil mengamati lebih dari 2.000 peristiwa GRB, serta menyediakan data kunci untuk lebih dari 1.400 studi tentang supernova dan objek antarbintang.
Dari Penelitian Supernova hingga Deteksi Komet Antarbintang
“Swift telah memperluas pemahaman kita tentang berbagai macam objek dan peristiwa kosmik, dari galaksi aktif yang didukung oleh lubang hitam supermasif dan bintang yang mengalami semburan sinar-X, hingga ledakan supernova dan komet serta asteroid di Tata Surya kita sendiri,” tulis NASA dalam pernyataan resminya, dikutip pada 4 November 2026. Teleskop ini juga menjadi salah satu alat utama dalam mendokumentasikan fenomena langka seperti gangguan pasang surut, di mana bintang-bintang dilahap oleh lubang hitam. Salah satu pencapaian terbarunya adalah deteksi komet 3I/ATLAS, objek antarbintang ketiga yang pernah teramati melintasi sistem tata surya. Secara keseluruhan, data Swift telah digunakan dalam lebih dari 7.000 studi ilmiah, dengan rata-rata enam penelitian baru menggunakan datanya setiap minggunya selama dua dekade lebih.
Sebelum keputusan akhir diambil, NASA bersama perusahaan swasta Katalyst sempat berupaya memperpanjang masa operasi Swift dengan mengangkatnya kembali ke orbit yang lebih tinggi menggunakan satelit robotik khusus. Namun, upaya tersebut gagal karena kerusakan teknis pada perangkat robotik saat dalam perjalanan. Akhirnya, tim ilmuwan memutuskan untuk menyerahkan teleskop pada proses alami kembali ke Bumi, sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi besar yang telah diberikannya bagi ilmu astronomi modern.
Artikel ini dirangkum dari sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8738756/teleskop-nasa-jatuh-ke-bumi-hari-rabu-ini-akhiri-misi-22-tahun-di-luar-angkasa